Mengulas Sejarah Olahraga Badminton

Badminton atau bulu tangkis mungkin tampak seperti permainan yang mudah. Dua atau empat pemain menggunakan raket ringan untuk memukul bola gabus berbulu melewati net di lapangan kecil yang menyerupai lapangan tenis. Tapi bola gabus itu, yang disebut shuttlecock atau kok, dapat terbang dengen kecapatan 177 kilometer per jam. Kemudian shuttlecock dengan cepat akan melambat dan menukik turun ke tanah. Lesatan shuttlecock yang cepat itu membutuhkan pemain yang mampu menjaga konsentrasi dan membuat keputusan sepersekian detik ketika akan memukulnya.

Sejarah Badminton

Badminton dimainkan di lebih dari 70 negara dan sangat populer di Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Saat ini, Indonesia dan China merupakan kiblat badminton dunia karena telah mengukir banyak prestasi besar dan melahirkan para pemain terbaik dunia. Badminton berasal dari permainan anak yang disebut ‘battledore and shuttlecock’, di mana dua pemain memukul shuttlecock berbulu bolak-balik dengan raket kecil. Beberapa bentuk olahraga ini dimainkan di Yunani dan Mesir kuno ribuan tahun lalu.

Permainan ini disebut ‘poona’ di India pada abad ke-19, dan petugas Tentara Britania yang ditempatkan di sana mengadopsi badminton versi India ke Inggris pada tahun 1860-an. Pada tahun 1873, permainan ini dimainkan di sebuah acara yang diselenggarakan oleh Duke of Beaufort di Badminton, real estatenya, hingga kemudian permainan ini dikenal sebagai “Badminton.” Aturan modern ditetapkan dalam bentuk dasarnya oleh Bath Badminton Club, yang didirikan pada tahun 1887.

Federasi Bulutangkis Internasional (Badminton World Federation/BWF), yang didirikan pada tahun 1934, memiliki kelompok anggota di 42 negara dan anggota asosiasi di 20 negara tambahan pada awal 1980-an. BWF menjadi badan internasional satu-satunya olahraga ini pada tahun 1981 ketika mereka menandatangani perjanjian dengan pesaingnya, Federasi Bulutangkis Dunia, yang telah memisahkan diri pada tahun 1977.

Kompetisi badminton internasional papan atas antara lain Piala Thomas untuk pria dan Piala Uber untuk wanita. Keduanya diadakan setiap tiga tahun sekali, lalu diubah menjadi dua tahun sekali. Event pertandingan meliputi tunggal putra dan tunggal putri, ganda putra dan ganda putri, serta ganda campuran. Sejauh ini, Indonesia adalah pemegang rekor peraih Piala Thomas terbanyak, sementara China memegang rekor peraih Piala Uber terbanyak. Badminton juga telah dimainkan dalam Olimpiade.

Komentar Anda